Senin, 07 Juli 2014

Tarawih! Tarawih! Jangan lupa witirnya juga!

Tarawih! Tarawih! Jangan lupa witirnya juga!

Alhamdulillah malam ini kita akan memasuki bulan Ramadhan, ketika pintu surga di buka, pintu neraka ditutup, dan syaitan dibelenggu.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang tarawih, saya ingin mereview saja.
.
1. Sholat malam di bulan Ramadhan (biasa disebut tarawih+witir) dengan jumlah yang tidak dibatasi. Boleh ikut 11 Rokaat, atau 23 rokaat, 41, atau yang lain. Asal tuma’ninah. (saya sering dengar sholat tarawih yang 23 rokaat itu gedebug2 saking cepatnya. Yang ini saya khawatir tidak sah, sebab, tuma’ninah itu termasuk rukun sholat. Rugi kalo rokaatnya banyak tetapi tidak sah). Rasulullah biasanya 11 rokaat.

2. Sholat malam, afdholnya dikerjakan dirumah (tidak di masjid), ini bagi yang punya banyak hafalan quran.

3. Bagi yang hafalannya sedikit, maka lebih baik sholat berjamaah di masjid. Afdhol juga yang punya hafalan banyak dan bacaannya bagus, mengimami di masjid.


4. Kalau ingin mendapat pahala sholat semalam suntuk, maka ikutilah imam sampai selesai witir. Karena ada beberapa makmum yang tidak ikut sholat witirnya imam karena mau melanjutkan sholat sendiri di rumah. Ini kurang tepat sebenarnya. Karena dengan tidak mengikuti witirnya imam, ia telah meninggalkan keutamaan yang besar, yakni pahala sholat semalam suntuk.

5. Witir memang sunnahnya dikerjakan sebagai penutup sholat malam, namun boleh juga dikerjakan di awalnya. Jadi tidak masalah bila ikut witirnya imam, lalu di malam harinya melanjutkan lagi untuk sholat malam, namun tidak perlu witir lagi, karena witir hanya dilakukan sekali saja.

Para shahabat dulu kalau sholat di masjid, yang dibaca adalah bacaan yang panjang-panjaaang, sampai-sampai di antara mereka ada yang bawa tongkat untuk menjaga agar mereka tetap kuat dan tidak jatuh karena panjangnya shalat. Namun demikian, mereka tetap semangat. Pantas saja Allah ridho kepada mereka.

Hmmm, bagaimana ya jika di sini diterapkan seperti itu.....????

Kalau jadi imam, lihat-lihat kondisi makmumnya, kalo makmumnya terbiasa seperti itu, ya silakan saja, intinya jangan sampai menyusahkan mereka. Karena ada celaan juga bagi imam yang membuat susah makmum dengan panjangnya sholat. Khawatirnya mereka tidak mau sholat lagi karena kapok....

Biasanya juga ada imam yang bawa mushaf waktu mengimami, yang ini boleh2 saja, asalkan ketika rukuk dan sujud, mushafnya diletakkan.

Demikian sedikit review, mudah2an lebih memantapkan sholat malam kita.

oleh Aang Yulius Prihatmoko